Selasa, 20 Februari 2018

POLSUSPAS BUKAN CITA-CITA TETAPI SEBUAH HARAPAN (Sepenggal Cerita)

Mari kita robek kemalasan sharing di blog ini. Dimulai dari cerita seorang guru yang banting profesi menjadi polisi khusus pemasyarakatan, awalnya daftar menjadi CPNS Kementrian Hukum dan HAM karena alasan 'kali aja rejeki' karena memang tidak ada niat sedikitpun mengingat formasi yg dibutuhkan tidak tertera sarjana pendidikan, akhirnya 'sedikit niat' daftar di formasi SMA menjadi Penjaga Tahanan, ya sipir, itu dulu ketika masih menggunakan sistem penjara, kini sipir berganti sebutan menjadi polsuspas alias kependekan dari Polisi Khusus Pemasyarakatan. Karena sejak tahun 1995 sudah menggunakan sistem pemasyarakatan dimana Narapidana atau kita sebut sekarang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sudah tidak lagi mendapat siksaan seperti yg masyarakat bayangkan, penderitaan mereka adalah tidak adanya kemerdekaan. Merdeka dalam artian bebas melakukan sesuatu, di dalam Lembaga Pemasyarakatan lebih memanusiakan manusia, hanya kebebasan yang tidak ada. Segala sesuatu diatur dan terikat aturan dengan tujuan untuk menjadikan para manusia terjebak ini dapat kembali ke jalan yang benar ketika selesai pembinaannya di dalam Lapas. Jadi dapat dikatakan bahwa Polsuspas merupakan salah satu agen perubahan masyarakat yang terjebak untuk menjadi masyarakat yang lebih baik juga mandiri dan tentunya tidak melakukan pelanggaran hukum lagi di kemudian hari.

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT. bahwa saya ternyata lolos seleksi demi seleksi untuk masuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di Kemenkumham. Orangtua dan semua kerabat turut bersyukur dan bangga, saya jauh lebih bangga lagi karena lolos dengan cara bersih dan tanpa bantuan siapapun untuk menjadi CPNS. Mungkin mindset kebanyakan masyarakat adalah lolos cpns biasanya ada bantuan orang dalam atau keluarga yang juga bekerja di lembaga yang sama. Tak jarang orang yang menanyakan berapa biaya menjadi cpns ketika mengetahui saya diterima, perasaan saya terkoyak karena saya miris mengapa masyarakat masih menilai bahwa pemerintahan itu semuanya kotor, ya mungkin banyak tapi ayolah..... masih banyak yang berdikari untuk memperjuangkan sesuatu yang layak didapat. Dan perjuangan untuk lolos seleksi CPNS ini pun tidak mudah. Dimulai dari pendaftaran online yang kemudian pengiriman berkas lewat PO BOX, setelah itu diumumkan nama-nama peserta yang lolos pemberkasan dan diwajibkan hadir membawa berkas asli untuk pengukuran tinggi badan dan verifikasi, tak hanya sampai situ, tidak sedikit peserta yang gugur verifikasi, untuk peserta yang lolos diwajibkan untuk mengikuti CAT dengan ketentuan lulus passing grade atau standar minimal kelulusan, banyak yang gagal di tahap ini sampai pada akhirnya panitia mengubah metode kelulusan dengan perankingan sehingga ada 3x jumlah peserta yang dibutuhkan dalam formasi untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya, ada sekitar kurang lebih 400an peserta perempuan DKI Jakarta yang lolos perankingan dari CAT untuk diikutsertakan seleksi selanjutnya yaitu Kesamaptaan. Pada seleksi ini kami diberikan standar penilaian yang cukup sulit, terutama untuk yang jarang berolahraga. Kebetulan saya telah mempersiapkan sejak pemberkasan awal, saya giat berolahraga tiap akhir pekan walau sekadar lari pagi atau sore yang kemudian latihan dengan target waktu dan jarak tertentu sebagai bahan latihan untuk seleksi samapta. Ternyata benar, perjuangan dan latihan saya tidaklah sia-sia karena saya mampu melawan diri saya untuk menjadi seorang atlet sehari, bisa dikatakan demikian karena hari itu saya habis-habisan melawan fisik saya untuk mengejar target agar dapat lolos seleksi, karena saya pikir sudah di tahap yang lumayan jauh dengan persaingan yang semakin ketat. Alhamdulillah saya mendapatkan peringkat samapta yang dapat dikatakan memuaskan untuk seorang yang jarang olahraga hahaha.... Bagaimana tidak, saya ada di posisi ke 18 dari peserta yang kesamaptaan hari itu. Bangga dan tidak disangka juga campur puas. Tapi perjuangan belum usai, masih ada seleksi PFK (Pengamatan Fisik dan Keterampilan) yang cukup bikin nerveous karena harus menampilkan bakat dan ada wawancara oleh para jajaran pejabat dan perwira di Kementrian Hukum dan HAM Kantor Wilayah DKI Jakarta, ketika PFK entah karena doa yang tak pernah putus, PFK berjalan sangat lancar dan membuat saya semakin percaya diri untuk lolos. Sampai akhirnya ucapan syukur tak berhenti keluar dari mulut karena nama saya ada di urutan ke-3 di lembar kelulusan CPNS Kanwil DKI Jakarta. Daebak.


Setelah kelulusan kami menunggu untuk informasi selanjutnya, sekitar kurang lebih 2 bulan kami menunggu kapan harus menghadap dan lain sebagainya. Sambil menunggu pengumuman banyak dari kami yang sudah resign dari pekerjaan sebelumnya dan banyak juga yang masih melanjutkan pekerjaan sebelumnya sampai benar-benar ada pengumuman resmi dari pihak kementerian. Akhirnya kami mulai memasuki kegiatan Orientasi I tanggal 22 Januari 2018. Pada orientasi I kami diberikan pengenalan-pengenalan secara umum mengenai tugas pokok dan fungsi di jajaran Kementrian Hukum dan HAM. Sampailah pada Orientasi II tanggal 29 Januari 2018 s.d 3 Februari 2018, pada orientasi ini kami mulai dikenalkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Polisi Khusus Pemasyarakatan dan apa saja tupoksinya serta pembekalan fisik juga mental untuk terjun ke lapangan. Setelah kami mendapatkan SK dan penempatan, kami pergi ke Unit Pelaksana Teknis masing-masing, dengan berat hati karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga selama orientasi. Di UPT masing-masing dan kebetulan saya ditempatkan di Rutan Klas IIA Jakarta Timur atau dikenal dengan Rutan pondok bambu yang notabene dihuni hanya oleh Tahanan dan WBP perempuan. Alhamdulillah ditempatkan di lingkungan yang ramah dan menyenangkan, kesan pertama yang baik karena para senior yang mayoritas perempuan ini memberikan energi positif bagi kami para tunas muda untuk menjadi teladan bagi diri sendiri maupun orang lain. Lingkungan yang hangat dan penuh kasih sayang membuat saya sangat nyaman berada di dalamnya, mulai dari perempuan usia belia sampai lansia berada di lingkungan ini, mulai dari yang terjebak sampai khilaf semuanya berada dalam wadah yang tepat untuk memperbaiki diri. Walau Rutan hanya tempat persinggahan bagi para warga binaan yang menunggu putusan sidang, tidak menutup kemungkinan terjadi ikatan tali persaudaraan yang kuat. Banyak yang datang dan banyak pula yang keluar. Bekerja dalam lingkungan ini membuat saya berkaca dalam diri, ternyata hidup itu memang tak selalu mudah untuk dijalani, masih banyak hal yang harus disyukuri oleh kita sementara orang lain belum tentu mendapatkannya. Saya dan rekan-rekan belajar banyak dari tempat kami bekerja, tak sedikit pelajaran yang dapat dipetik. Sulit untuk digambarkan karena lebih mudah untuk dirasakan. Intinya saya sangat bersyukur dapat kesempatan untuk menjadi salah satu tunas yang dipercaya untuk mengayomi masyarakat yang salah jalan untuk membimbing mereka pulang menjadi insan yang lebih baik. Semoga kami dapat mengubah mindset masyarakat terhadap kehidupan ‘dibalik jeruji besi’ serta dapat memberikan kesan baik yang dapat membanggakan nama Polsuspas di Indonesia. Salam pengayoman.

3 komentar:

  1. Ini yg ditunggu2, akhirnya dibuat cerita! Tapi masih kurang panjang dibanding postingan di instastory padahal kyknya seru bgt! Pengen tau juga cerita ttg Ikhsan yg keterima dibagian yg sama, pengen tau cerita perpisahan sm anak2 SMP. Terusin nulisnya krn suatu saat lu tinggal baca cerita2 lu ketika org lain berusaha mengingat apa yg udh mereka laluin.

    Semangat dan sukses terus!❤️

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahaha iya masih on proses kesana, mau cerita yg panjang cuma waktu buat nulisnya yg kurang. Next time lebih panjang dan lebih rinci lagi daaah hahahaha thankyou beb❤

      Hapus