Sebelum
bekerja di Kementerian, saya adalah seorang Guru. Ya, cita-cita dan bisa
dikatakan kesukaan dalam hidup adalah berbagi ilmu, bukan menggurui tetapi
lebih kepada sharing, apalagi berbagi
kepada orang yang betul-betul belum mengetahui tentang suatu informasi. Ada kebanggaan
tersendiri karena bisa memaparkan informasi yang benar sampai kemudian orang
yang menerimanya turut senang dibagikan informasi demikian. Banyak yang bilang
hobi yang dibayar itu enak, saya menikmati hobi saya mengajar dan dibayar, itu
enak. Saya juga tidak mempermasalahkan gaji seorang guru, karena saya menjadi
guru bukan untuk mendapatkan gaji melainkan menyalurkan bakat dan hobi yang
dimiliki. Karena saya senang dengan anak sekolahan, memberi saya kesempatan
untuk mengingat masa-masa nakal saya ketika sekolah. Jadi saya pun sedikit
banyaknya memaklumi kelakuan anak sekolahan, bukan memberi mereka kebebasan
tetapi lebih memahami apa yang mereka inginkan. Maka dari itu saya menjadi guru
pun melihat perkembangan mereka, mulai dari gaya bicara, style, gossip terhangat, sampai curahan hati mereka. Menjadi guru
lebih asik ketika para siswa menganggap kita sebagai kakak mereka, sahabat,
juga penasihat yang baik. Bukan untuk ditakuti, disegani atau diagung-agungkan.
Banyak murid saya yang mengatakan bahwa saya guru gaul, asik, gak baperan dan
enak ngajarnya. Tidak mudah menjadi guru yang disayangi dan dihargai oleh
murid, tetapi kita harus paham betul kebutuhan mereka. Apabila kita mengajar
dan mendidik anak jaman sekarang, kita tidak mungkin menggunakan cara yang
konvensional karena mereka sudah mengerti teknologi dan perkembangan informasi.
Cara kita tinggal menyesuaikan, apa yang sedang trend di kalangan mereka. Bukan untuk kita ikuti, tetapi kaitkan
dengan mata pelajaran dan pemberian materi. Hal ini akan memberikan mereka
semangat dan membuat mereka merasa dihargai juga. Mungkin karena saya masih
terbilang muda untuk menjadi guru, jadi masih lebih mudah menyesuaikan kondisi
murid dibandingkan guru-guru senior yang usianya sudah mendekati pensiun. Tak heran
jika banyak anak murid yang ‘modus’ kepada saya. Katanya selain cantik (ceilah,
ini kata anak murid ya), Bu Intan juga baik dan cara ngajarnya enak karena
kekinian. Kenapa demikian? Karena saya tipikal orang yang tidak suka
bertele-tele, jadi saya mengajarkan yang intinya dan menjelaskan dengan
bercerita juga diselipkan video dan gambar sehingga murid lebih mudah mencerna
materi yang disampaikan. Ini teori banget ya, prakteknya tanya sendiri sama
murid saya hehehe…
Awal
mula kenapa mau jadi guru jadi begini, ketika SMA saya banyak kecewa dengan
guru-guru saya di sekolah karena beberapa hal. Pertama karena cara mengajar,
kebanyakan guru mengajar ya hanya sekadar transfer ilmu yang dimiliki kepada
muridnya, diterima atau tidak oleh sang murid itu urusan belakangan. Satu
ketika guru bertanya ‘sudah paham kan semuanya?’ sontak beberapa dari kami
menjawab ‘belum bu’ berharap guru akan menjelaskan ulang malah kami semua kena
marah katanya kami tidak memperhatikan atau bodoh dan lain sebagainya. Padahal
cara mengajarnya yang tidak mengasyikan karena dia hanya berinteraksi satu arah sehingga informasi tidak sampai kepada muridnya. Kedua
karena cara berbicara, beberapa guru menganggap bahwa kami disekolahkan harus
bisa dan paham apa maksud mereka padahal cara mereka berbicara pun tidak
memberi dampak kepada kami untuk lebih giat belajar atau lebih berprestasi. Mengapa?
Karena tidak sedikit guru yang memberi cap kepada murid dengan sembarangan,
murid nakal dibilang gapunya otak, murid tidak mengerti dibilang bodoh, murid
diam dibilang bisu, murid aktif dibilang sotau dan lain sebagainya. Tidak ada award atau pujian untuk mendobrak
semangat murid agar lebih maju, malah menjatuhkan sehingga murid-murid pun
malas untuk belajar. Padahal kami malas bukan karena memang malas, tapi keadaan
yang membuat kami malas. Guru yang tidak mendukung pelajaran membuat mental
kami down. Beberapa hal itulah yang
kemudian mengetuk pikiran saya untuk menjadi guru. Sampai kemudian di kelas 12
saya mencari PTN yang memungkinkan menciptakan lulusan guru yang berkualitas,
UNJ saya pilih dan Alhamdulillah saya lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan
Tinggi Negeri (SNMPTN) di jurusan Pendidikan IPS yang sesuai dengan backround jurusan ketika SMA. Perasaan saya
senang sekali karena bisa kuliah di Universitas Negeri dan sesuai dengan
jurusan yang saya inginkan. Hari-hari selama kuliah saya jalani dengan suka
cita, memang tidak mudah untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu, tapi jika kita
jalani dengan niat maka akan selesai juga dengan hasil yang memuaskan. Lagi-lagi
bersyukur karena lulus dengan predikat ‘Pujian’.
Selama
saya pemberkasan skripsi itu sekitar bulan Juli-Agustus, saya sudah mulai
diterima kerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Jakarta, tepatnya
di SMP Kartika X-1 di Jatinegara. Bisa mengajar sebelum wisuda itu juga bangga
karena belum ada ijazah tetapi sudah dipercaya mengajar murid-murid di sekolah.
Mulanya saya pikir sama seperti mengajar di tempat praktek dulu, tetapi
ternyata berbeda karena harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Alhamdulillah
saya diberi kesabaran luar biasa untuk mengajar disini karena muridnya yang
lebih ‘aktif’ dan harus sedikit diberi dorongan dibandingkan murid di sekolah
lain. Tetapi hal ini tidak membuat saya menyerah, saya malah makin semangat
untuk membuat mereka semangat belajar. Dan yeay! Sepertinya saya berhasil,
karena banyak murid yang mau belajar dengan saya di kelas. Sampai kalau sakit
dan tidak masuk pasti murid menghubungi entah karena rindu atau mau belajar
sama Bu Intan (katanya….). Sambil mengajar, saya mengurus berkas skripsi,
berkas pendaftaran cpns, sampai berkas wisuda. Sungguh menguras tenaga karena
harus bolak-balik sekolah, kampus, dan Kanwil. Lelah ya, tapi harus semangat. Saya
tidak pernah menyangka bahwa akan terus lolos dalam seleksi cpns di Kementerian
Hukum dan HAM. Saya jalani saja sambil saya menikmati pekerjaan saya sebagai
seorang guru. Kurang lebih 1 semester saya mengajar, pengumuman cpns keluar dan
memaksa saya untuk berhenti menjadi seorang guru. Perpisahan di sekolah yang
sangat haru, karena saya harus melepaskan passion
juga hobi mengajar demi masa depan yang banyak didamkan orang banyak. Tidak naif
bahwa saya juga ingin mobilitas sosial, siapa sih yang nolak jadi PNS? Sepertinya
kemungkinannya sangat kecil, maka dari itu saya rela melepaskan perjuangan
kuliah 4 tahun yang sudah disalurkan selama 1 semester demi menjadi anak yang
membanggakan orang tua. Sedih campur bahagia, sedih karena harus berpisah
dengan murid saya yang menggemaskan dan rekan-rekan guru yang sudah seperti
orang tua sendiri. Tetapi bahagia karena ada harapan punya masa depan yang
jelas dan membanggakan orang tua. Semua murid juga ikut sedih karena saya harus
menanggalkan pekerjaan saya menjadi guru. Saya pun tak tahan menahan tangis dan
meluapkannya ketika berpisah di ruang guru. Tetapi itu bukanlah perpisahan
untuk selamanya, mereka tetap orang tua dan saudara saya. Pasti saya akan
kembali kesana untuk silaturahmi lagi sampai waktu yang lama. Sebenarnya sampai
saat ini saya masih menyimpan sedih dan rindu dengan pekerjaan lama, tetapi
semua sudah ada jalannya. Walau tidak bisa mengajar di sekolah, setidaknya saya
bisa turut membina masyarakat di Rumah Tahanan Negara untuk mejadi masyarakat yang
jauh lebih baik.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar