Mari
kita robek kemalasan sharing di blog ini. Dimulai dari cerita seorang guru yang banting
profesi menjadi polisi khusus pemasyarakatan, awalnya daftar menjadi CPNS
Kementrian Hukum dan HAM karena alasan 'kali aja rejeki' karena memang tidak
ada niat sedikitpun mengingat formasi yg dibutuhkan tidak tertera sarjana pendidikan,
akhirnya 'sedikit niat' daftar di formasi SMA menjadi Penjaga Tahanan, ya
sipir, itu dulu ketika masih menggunakan sistem penjara, kini sipir berganti
sebutan menjadi polsuspas alias kependekan dari Polisi Khusus Pemasyarakatan. Karena sejak tahun 1995 sudah menggunakan sistem pemasyarakatan dimana
Narapidana atau kita sebut sekarang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sudah
tidak lagi mendapat siksaan seperti yg masyarakat bayangkan, penderitaan mereka
adalah tidak adanya kemerdekaan. Merdeka dalam artian bebas melakukan sesuatu,
di dalam Lembaga Pemasyarakatan lebih memanusiakan manusia, hanya kebebasan yang
tidak ada. Segala sesuatu diatur dan terikat aturan dengan tujuan untuk
menjadikan para manusia terjebak ini dapat kembali ke jalan yang benar ketika
selesai pembinaannya di dalam Lapas. Jadi dapat dikatakan bahwa Polsuspas merupakan
salah satu agen perubahan masyarakat yang terjebak untuk menjadi masyarakat
yang lebih baik juga mandiri dan tentunya tidak melakukan pelanggaran hukum
lagi di kemudian hari.
Alhamdulillah
puji syukur kepada Allah SWT. bahwa saya ternyata lolos seleksi demi seleksi
untuk masuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di Kemenkumham. Orangtua dan
semua kerabat turut bersyukur dan bangga, saya jauh lebih bangga lagi karena
lolos dengan cara bersih dan tanpa bantuan siapapun untuk menjadi CPNS. Mungkin
mindset kebanyakan masyarakat adalah lolos cpns biasanya ada bantuan
orang dalam atau keluarga yang juga bekerja di lembaga yang sama. Tak jarang
orang yang menanyakan berapa biaya menjadi cpns ketika mengetahui saya diterima,
perasaan saya terkoyak karena saya miris mengapa masyarakat masih menilai bahwa
pemerintahan itu semuanya kotor, ya mungkin banyak tapi ayolah..... masih
banyak yang berdikari untuk memperjuangkan sesuatu yang layak didapat. Dan
perjuangan untuk lolos seleksi CPNS ini pun tidak mudah. Dimulai dari
pendaftaran online yang kemudian pengiriman berkas lewat PO BOX, setelah itu
diumumkan nama-nama peserta yang lolos pemberkasan dan diwajibkan hadir membawa
berkas asli untuk pengukuran tinggi badan dan verifikasi, tak hanya sampai
situ, tidak sedikit peserta yang gugur verifikasi, untuk peserta yang lolos
diwajibkan untuk mengikuti CAT dengan ketentuan lulus passing grade atau
standar minimal kelulusan, banyak yang gagal di tahap ini sampai pada akhirnya
panitia mengubah metode kelulusan dengan perankingan sehingga ada 3x jumlah
peserta yang dibutuhkan dalam formasi untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya,
ada sekitar kurang lebih 400an peserta perempuan DKI Jakarta yang lolos perankingan
dari CAT untuk diikutsertakan seleksi selanjutnya yaitu Kesamaptaan. Pada
seleksi ini kami diberikan standar penilaian yang cukup sulit, terutama untuk
yang jarang berolahraga. Kebetulan saya telah mempersiapkan sejak pemberkasan
awal, saya giat berolahraga tiap akhir pekan walau sekadar lari pagi atau sore
yang kemudian latihan dengan target waktu dan jarak tertentu sebagai bahan latihan untuk seleksi samapta. Ternyata benar, perjuangan dan latihan saya tidaklah
sia-sia karena saya mampu melawan diri saya untuk menjadi seorang atlet sehari,
bisa dikatakan demikian karena hari itu saya habis-habisan melawan fisik saya
untuk mengejar target agar dapat lolos seleksi, karena saya pikir sudah di tahap
yang lumayan jauh dengan persaingan yang semakin ketat. Alhamdulillah saya
mendapatkan peringkat samapta yang dapat dikatakan memuaskan untuk seorang yang
jarang olahraga hahaha.... Bagaimana tidak, saya ada di posisi ke 18 dari peserta
yang kesamaptaan hari itu. Bangga dan tidak disangka juga campur puas. Tapi
perjuangan belum usai, masih ada seleksi PFK (Pengamatan Fisik dan Keterampilan)
yang cukup bikin nerveous karena harus menampilkan bakat dan ada
wawancara oleh para jajaran pejabat dan perwira di Kementrian Hukum dan HAM Kantor
Wilayah DKI Jakarta, ketika PFK entah karena doa yang tak pernah putus, PFK
berjalan sangat lancar dan membuat saya semakin percaya diri untuk lolos.
Sampai akhirnya ucapan syukur tak berhenti keluar dari mulut karena nama saya ada di
urutan ke-3 di lembar kelulusan CPNS Kanwil DKI Jakarta. Daebak.
Setelah
kelulusan kami menunggu untuk informasi selanjutnya, sekitar kurang lebih 2
bulan kami menunggu kapan harus menghadap dan lain sebagainya. Sambil menunggu
pengumuman banyak dari kami yang sudah resign dari pekerjaan sebelumnya
dan banyak juga yang masih melanjutkan pekerjaan sebelumnya sampai benar-benar
ada pengumuman resmi dari pihak kementerian. Akhirnya kami mulai memasuki
kegiatan Orientasi I tanggal 22 Januari 2018. Pada orientasi I kami diberikan pengenalan-pengenalan
secara umum mengenai tugas pokok dan fungsi di jajaran Kementrian Hukum dan HAM.
Sampailah pada Orientasi II tanggal 29 Januari 2018 s.d 3 Februari
2018, pada orientasi ini kami mulai dikenalkan dengan hal-hal yang berkaitan
dengan Polisi Khusus Pemasyarakatan dan apa saja tupoksinya serta pembekalan
fisik juga mental untuk terjun ke lapangan. Setelah kami mendapatkan SK dan penempatan,
kami pergi ke Unit Pelaksana Teknis masing-masing, dengan berat hati karena
harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga selama orientasi.
Di UPT masing-masing dan kebetulan saya ditempatkan di Rutan Klas IIA Jakarta
Timur atau dikenal dengan Rutan pondok bambu yang notabene dihuni hanya oleh Tahanan
dan WBP perempuan. Alhamdulillah ditempatkan di lingkungan yang ramah dan
menyenangkan, kesan pertama yang baik karena para senior yang mayoritas
perempuan ini memberikan energi positif bagi kami para tunas muda untuk menjadi
teladan bagi diri sendiri maupun orang lain. Lingkungan yang hangat dan penuh
kasih sayang membuat saya sangat nyaman berada di dalamnya, mulai dari
perempuan usia belia sampai lansia berada di lingkungan ini, mulai dari yang
terjebak sampai khilaf semuanya berada dalam wadah yang tepat untuk memperbaiki
diri. Walau Rutan hanya tempat persinggahan bagi para warga binaan yang
menunggu putusan sidang, tidak menutup kemungkinan terjadi ikatan tali persaudaraan
yang kuat. Banyak yang datang dan banyak pula yang keluar. Bekerja dalam
lingkungan ini membuat saya berkaca dalam diri, ternyata hidup itu memang tak
selalu mudah untuk dijalani, masih banyak hal yang harus disyukuri oleh kita sementara
orang lain belum tentu mendapatkannya. Saya dan rekan-rekan belajar banyak dari
tempat kami bekerja, tak sedikit pelajaran yang dapat dipetik. Sulit untuk
digambarkan karena lebih mudah untuk dirasakan. Intinya saya sangat bersyukur
dapat kesempatan untuk menjadi salah satu tunas yang dipercaya untuk mengayomi
masyarakat yang salah jalan untuk membimbing mereka pulang menjadi insan yang
lebih baik. Semoga kami dapat mengubah mindset
masyarakat terhadap kehidupan ‘dibalik jeruji besi’ serta dapat memberikan
kesan baik yang dapat membanggakan nama Polsuspas di Indonesia. Salam pengayoman.
Ini yg ditunggu2, akhirnya dibuat cerita! Tapi masih kurang panjang dibanding postingan di instastory padahal kyknya seru bgt! Pengen tau juga cerita ttg Ikhsan yg keterima dibagian yg sama, pengen tau cerita perpisahan sm anak2 SMP. Terusin nulisnya krn suatu saat lu tinggal baca cerita2 lu ketika org lain berusaha mengingat apa yg udh mereka laluin.
BalasHapusSemangat dan sukses terus!❤️
Hahaha iya masih on proses kesana, mau cerita yg panjang cuma waktu buat nulisnya yg kurang. Next time lebih panjang dan lebih rinci lagi daaah hahahaha thankyou beb❤
HapusKeren bgt kak 🤩
BalasHapus