Minggu, 25 Februari 2018

POLSUSPAS BUKAN CITA-CITA TETAPI SEBUAH HARAPAN (Melepas PASSION)



Sebelum bekerja di Kementerian, saya adalah seorang Guru. Ya, cita-cita dan bisa dikatakan kesukaan dalam hidup adalah berbagi ilmu, bukan menggurui tetapi lebih kepada sharing, apalagi berbagi kepada orang yang betul-betul belum mengetahui tentang suatu informasi. Ada kebanggaan tersendiri karena bisa memaparkan informasi yang benar sampai kemudian orang yang menerimanya turut senang dibagikan informasi demikian. Banyak yang bilang hobi yang dibayar itu enak, saya menikmati hobi saya mengajar dan dibayar, itu enak. Saya juga tidak mempermasalahkan gaji seorang guru, karena saya menjadi guru bukan untuk mendapatkan gaji melainkan menyalurkan bakat dan hobi yang dimiliki. Karena saya senang dengan anak sekolahan, memberi saya kesempatan untuk mengingat masa-masa nakal saya ketika sekolah. Jadi saya pun sedikit banyaknya memaklumi kelakuan anak sekolahan, bukan memberi mereka kebebasan tetapi lebih memahami apa yang mereka inginkan. Maka dari itu saya menjadi guru pun melihat perkembangan mereka, mulai dari gaya bicara, style, gossip terhangat, sampai curahan hati mereka. Menjadi guru lebih asik ketika para siswa menganggap kita sebagai kakak mereka, sahabat, juga penasihat yang baik. Bukan untuk ditakuti, disegani atau diagung-agungkan. Banyak murid saya yang mengatakan bahwa saya guru gaul, asik, gak baperan dan enak ngajarnya. Tidak mudah menjadi guru yang disayangi dan dihargai oleh murid, tetapi kita harus paham betul kebutuhan mereka. Apabila kita mengajar dan mendidik anak jaman sekarang, kita tidak mungkin menggunakan cara yang konvensional karena mereka sudah mengerti teknologi dan perkembangan informasi. Cara kita tinggal menyesuaikan, apa yang sedang trend di kalangan mereka. Bukan untuk kita ikuti, tetapi kaitkan dengan mata pelajaran dan pemberian materi. Hal ini akan memberikan mereka semangat dan membuat mereka merasa dihargai juga. Mungkin karena saya masih terbilang muda untuk menjadi guru, jadi masih lebih mudah menyesuaikan kondisi murid dibandingkan guru-guru senior yang usianya sudah mendekati pensiun. Tak heran jika banyak anak murid yang ‘modus’ kepada saya. Katanya selain cantik (ceilah, ini kata anak murid ya), Bu Intan juga baik dan cara ngajarnya enak karena kekinian. Kenapa demikian? Karena saya tipikal orang yang tidak suka bertele-tele, jadi saya mengajarkan yang intinya dan menjelaskan dengan bercerita juga diselipkan video dan gambar sehingga murid lebih mudah mencerna materi yang disampaikan. Ini teori banget ya, prakteknya tanya sendiri sama murid saya hehehe…

Awal mula kenapa mau jadi guru jadi begini, ketika SMA saya banyak kecewa dengan guru-guru saya di sekolah karena beberapa hal. Pertama karena cara mengajar, kebanyakan guru mengajar ya hanya sekadar transfer ilmu yang dimiliki kepada muridnya, diterima atau tidak oleh sang murid itu urusan belakangan. Satu ketika guru bertanya ‘sudah paham kan semuanya?’ sontak beberapa dari kami menjawab ‘belum bu’ berharap guru akan menjelaskan ulang malah kami semua kena marah katanya kami tidak memperhatikan atau bodoh dan lain sebagainya. Padahal cara mengajarnya yang tidak mengasyikan karena dia hanya berinteraksi satu arah sehingga informasi tidak sampai kepada muridnya. Kedua karena cara berbicara, beberapa guru menganggap bahwa kami disekolahkan harus bisa dan paham apa maksud mereka padahal cara mereka berbicara pun tidak memberi dampak kepada kami untuk lebih giat belajar atau lebih berprestasi. Mengapa? Karena tidak sedikit guru yang memberi cap kepada murid dengan sembarangan, murid nakal dibilang gapunya otak, murid tidak mengerti dibilang bodoh, murid diam dibilang bisu, murid aktif dibilang sotau dan lain sebagainya. Tidak ada award atau pujian untuk mendobrak semangat murid agar lebih maju, malah menjatuhkan sehingga murid-murid pun malas untuk belajar. Padahal kami malas bukan karena memang malas, tapi keadaan yang membuat kami malas. Guru yang tidak mendukung pelajaran membuat mental kami down. Beberapa hal itulah yang kemudian mengetuk pikiran saya untuk menjadi guru. Sampai kemudian di kelas 12 saya mencari PTN yang memungkinkan menciptakan lulusan guru yang berkualitas, UNJ saya pilih dan Alhamdulillah saya lolos Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) di jurusan Pendidikan IPS yang sesuai dengan backround jurusan ketika SMA. Perasaan saya senang sekali karena bisa kuliah di Universitas Negeri dan sesuai dengan jurusan yang saya inginkan. Hari-hari selama kuliah saya jalani dengan suka cita, memang tidak mudah untuk menyelesaikan kuliah tepat waktu, tapi jika kita jalani dengan niat maka akan selesai juga dengan hasil yang memuaskan. Lagi-lagi bersyukur karena lulus dengan predikat ‘Pujian’.

Selama saya pemberkasan skripsi itu sekitar bulan Juli-Agustus, saya sudah mulai diterima kerja sebagai guru di salah satu sekolah swasta di Jakarta, tepatnya di SMP Kartika X-1 di Jatinegara. Bisa mengajar sebelum wisuda itu juga bangga karena belum ada ijazah tetapi sudah dipercaya mengajar murid-murid di sekolah. Mulanya saya pikir sama seperti mengajar di tempat praktek dulu, tetapi ternyata berbeda karena harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan. Alhamdulillah saya diberi kesabaran luar biasa untuk mengajar disini karena muridnya yang lebih ‘aktif’ dan harus sedikit diberi dorongan dibandingkan murid di sekolah lain. Tetapi hal ini tidak membuat saya menyerah, saya malah makin semangat untuk membuat mereka semangat belajar. Dan yeay! Sepertinya saya berhasil, karena banyak murid yang mau belajar dengan saya di kelas. Sampai kalau sakit dan tidak masuk pasti murid menghubungi entah karena rindu atau mau belajar sama Bu Intan (katanya….). Sambil mengajar, saya mengurus berkas skripsi, berkas pendaftaran cpns, sampai berkas wisuda. Sungguh menguras tenaga karena harus bolak-balik sekolah, kampus, dan Kanwil. Lelah ya, tapi harus semangat. Saya tidak pernah menyangka bahwa akan terus lolos dalam seleksi cpns di Kementerian Hukum dan HAM. Saya jalani saja sambil saya menikmati pekerjaan saya sebagai seorang guru. Kurang lebih 1 semester saya mengajar, pengumuman cpns keluar dan memaksa saya untuk berhenti menjadi seorang guru. Perpisahan di sekolah yang sangat haru, karena saya harus melepaskan passion juga hobi mengajar demi masa depan yang banyak didamkan orang banyak. Tidak naif bahwa saya juga ingin mobilitas sosial, siapa sih yang nolak jadi PNS? Sepertinya kemungkinannya sangat kecil, maka dari itu saya rela melepaskan perjuangan kuliah 4 tahun yang sudah disalurkan selama 1 semester demi menjadi anak yang membanggakan orang tua. Sedih campur bahagia, sedih karena harus berpisah dengan murid saya yang menggemaskan dan rekan-rekan guru yang sudah seperti orang tua sendiri. Tetapi bahagia karena ada harapan punya masa depan yang jelas dan membanggakan orang tua. Semua murid juga ikut sedih karena saya harus menanggalkan pekerjaan saya menjadi guru. Saya pun tak tahan menahan tangis dan meluapkannya ketika berpisah di ruang guru. Tetapi itu bukanlah perpisahan untuk selamanya, mereka tetap orang tua dan saudara saya. Pasti saya akan kembali kesana untuk silaturahmi lagi sampai waktu yang lama. Sebenarnya sampai saat ini saya masih menyimpan sedih dan rindu dengan pekerjaan lama, tetapi semua sudah ada jalannya. Walau tidak bisa mengajar di sekolah, setidaknya saya bisa turut membina masyarakat di Rumah Tahanan Negara untuk mejadi masyarakat yang jauh lebih baik.

Selasa, 20 Februari 2018

POLSUSPAS BUKAN CITA-CITA TETAPI SEBUAH HARAPAN (Sepenggal Cerita)

Mari kita robek kemalasan sharing di blog ini. Dimulai dari cerita seorang guru yang banting profesi menjadi polisi khusus pemasyarakatan, awalnya daftar menjadi CPNS Kementrian Hukum dan HAM karena alasan 'kali aja rejeki' karena memang tidak ada niat sedikitpun mengingat formasi yg dibutuhkan tidak tertera sarjana pendidikan, akhirnya 'sedikit niat' daftar di formasi SMA menjadi Penjaga Tahanan, ya sipir, itu dulu ketika masih menggunakan sistem penjara, kini sipir berganti sebutan menjadi polsuspas alias kependekan dari Polisi Khusus Pemasyarakatan. Karena sejak tahun 1995 sudah menggunakan sistem pemasyarakatan dimana Narapidana atau kita sebut sekarang Warga Binaan Pemasyarakatan (WBP) sudah tidak lagi mendapat siksaan seperti yg masyarakat bayangkan, penderitaan mereka adalah tidak adanya kemerdekaan. Merdeka dalam artian bebas melakukan sesuatu, di dalam Lembaga Pemasyarakatan lebih memanusiakan manusia, hanya kebebasan yang tidak ada. Segala sesuatu diatur dan terikat aturan dengan tujuan untuk menjadikan para manusia terjebak ini dapat kembali ke jalan yang benar ketika selesai pembinaannya di dalam Lapas. Jadi dapat dikatakan bahwa Polsuspas merupakan salah satu agen perubahan masyarakat yang terjebak untuk menjadi masyarakat yang lebih baik juga mandiri dan tentunya tidak melakukan pelanggaran hukum lagi di kemudian hari.

Alhamdulillah puji syukur kepada Allah SWT. bahwa saya ternyata lolos seleksi demi seleksi untuk masuk menjadi Calon Pegawai Negeri Sipil di Kemenkumham. Orangtua dan semua kerabat turut bersyukur dan bangga, saya jauh lebih bangga lagi karena lolos dengan cara bersih dan tanpa bantuan siapapun untuk menjadi CPNS. Mungkin mindset kebanyakan masyarakat adalah lolos cpns biasanya ada bantuan orang dalam atau keluarga yang juga bekerja di lembaga yang sama. Tak jarang orang yang menanyakan berapa biaya menjadi cpns ketika mengetahui saya diterima, perasaan saya terkoyak karena saya miris mengapa masyarakat masih menilai bahwa pemerintahan itu semuanya kotor, ya mungkin banyak tapi ayolah..... masih banyak yang berdikari untuk memperjuangkan sesuatu yang layak didapat. Dan perjuangan untuk lolos seleksi CPNS ini pun tidak mudah. Dimulai dari pendaftaran online yang kemudian pengiriman berkas lewat PO BOX, setelah itu diumumkan nama-nama peserta yang lolos pemberkasan dan diwajibkan hadir membawa berkas asli untuk pengukuran tinggi badan dan verifikasi, tak hanya sampai situ, tidak sedikit peserta yang gugur verifikasi, untuk peserta yang lolos diwajibkan untuk mengikuti CAT dengan ketentuan lulus passing grade atau standar minimal kelulusan, banyak yang gagal di tahap ini sampai pada akhirnya panitia mengubah metode kelulusan dengan perankingan sehingga ada 3x jumlah peserta yang dibutuhkan dalam formasi untuk mengikuti seleksi tahap berikutnya, ada sekitar kurang lebih 400an peserta perempuan DKI Jakarta yang lolos perankingan dari CAT untuk diikutsertakan seleksi selanjutnya yaitu Kesamaptaan. Pada seleksi ini kami diberikan standar penilaian yang cukup sulit, terutama untuk yang jarang berolahraga. Kebetulan saya telah mempersiapkan sejak pemberkasan awal, saya giat berolahraga tiap akhir pekan walau sekadar lari pagi atau sore yang kemudian latihan dengan target waktu dan jarak tertentu sebagai bahan latihan untuk seleksi samapta. Ternyata benar, perjuangan dan latihan saya tidaklah sia-sia karena saya mampu melawan diri saya untuk menjadi seorang atlet sehari, bisa dikatakan demikian karena hari itu saya habis-habisan melawan fisik saya untuk mengejar target agar dapat lolos seleksi, karena saya pikir sudah di tahap yang lumayan jauh dengan persaingan yang semakin ketat. Alhamdulillah saya mendapatkan peringkat samapta yang dapat dikatakan memuaskan untuk seorang yang jarang olahraga hahaha.... Bagaimana tidak, saya ada di posisi ke 18 dari peserta yang kesamaptaan hari itu. Bangga dan tidak disangka juga campur puas. Tapi perjuangan belum usai, masih ada seleksi PFK (Pengamatan Fisik dan Keterampilan) yang cukup bikin nerveous karena harus menampilkan bakat dan ada wawancara oleh para jajaran pejabat dan perwira di Kementrian Hukum dan HAM Kantor Wilayah DKI Jakarta, ketika PFK entah karena doa yang tak pernah putus, PFK berjalan sangat lancar dan membuat saya semakin percaya diri untuk lolos. Sampai akhirnya ucapan syukur tak berhenti keluar dari mulut karena nama saya ada di urutan ke-3 di lembar kelulusan CPNS Kanwil DKI Jakarta. Daebak.


Setelah kelulusan kami menunggu untuk informasi selanjutnya, sekitar kurang lebih 2 bulan kami menunggu kapan harus menghadap dan lain sebagainya. Sambil menunggu pengumuman banyak dari kami yang sudah resign dari pekerjaan sebelumnya dan banyak juga yang masih melanjutkan pekerjaan sebelumnya sampai benar-benar ada pengumuman resmi dari pihak kementerian. Akhirnya kami mulai memasuki kegiatan Orientasi I tanggal 22 Januari 2018. Pada orientasi I kami diberikan pengenalan-pengenalan secara umum mengenai tugas pokok dan fungsi di jajaran Kementrian Hukum dan HAM. Sampailah pada Orientasi II tanggal 29 Januari 2018 s.d 3 Februari 2018, pada orientasi ini kami mulai dikenalkan dengan hal-hal yang berkaitan dengan Polisi Khusus Pemasyarakatan dan apa saja tupoksinya serta pembekalan fisik juga mental untuk terjun ke lapangan. Setelah kami mendapatkan SK dan penempatan, kami pergi ke Unit Pelaksana Teknis masing-masing, dengan berat hati karena harus berpisah dengan teman-teman yang sudah seperti keluarga selama orientasi. Di UPT masing-masing dan kebetulan saya ditempatkan di Rutan Klas IIA Jakarta Timur atau dikenal dengan Rutan pondok bambu yang notabene dihuni hanya oleh Tahanan dan WBP perempuan. Alhamdulillah ditempatkan di lingkungan yang ramah dan menyenangkan, kesan pertama yang baik karena para senior yang mayoritas perempuan ini memberikan energi positif bagi kami para tunas muda untuk menjadi teladan bagi diri sendiri maupun orang lain. Lingkungan yang hangat dan penuh kasih sayang membuat saya sangat nyaman berada di dalamnya, mulai dari perempuan usia belia sampai lansia berada di lingkungan ini, mulai dari yang terjebak sampai khilaf semuanya berada dalam wadah yang tepat untuk memperbaiki diri. Walau Rutan hanya tempat persinggahan bagi para warga binaan yang menunggu putusan sidang, tidak menutup kemungkinan terjadi ikatan tali persaudaraan yang kuat. Banyak yang datang dan banyak pula yang keluar. Bekerja dalam lingkungan ini membuat saya berkaca dalam diri, ternyata hidup itu memang tak selalu mudah untuk dijalani, masih banyak hal yang harus disyukuri oleh kita sementara orang lain belum tentu mendapatkannya. Saya dan rekan-rekan belajar banyak dari tempat kami bekerja, tak sedikit pelajaran yang dapat dipetik. Sulit untuk digambarkan karena lebih mudah untuk dirasakan. Intinya saya sangat bersyukur dapat kesempatan untuk menjadi salah satu tunas yang dipercaya untuk mengayomi masyarakat yang salah jalan untuk membimbing mereka pulang menjadi insan yang lebih baik. Semoga kami dapat mengubah mindset masyarakat terhadap kehidupan ‘dibalik jeruji besi’ serta dapat memberikan kesan baik yang dapat membanggakan nama Polsuspas di Indonesia. Salam pengayoman.