Dewasa ini, tak jarang pemerintah tidak
menomersatukan pendidikan bagi anak pedalaman. Padahal bagi para anak pedalaman
sebuah pendidikan adalah hal yang paling minim yang mereka dapatkan. Tak
sedikit orang yang menyayangkan ketertinggalan sumber ilmu bagi para anak
pedalaman. Namun hal ini tidak menyurutkan semangat para aktivis dan volunteer untuk membawa diri mereka ke
pedalaman, membantu dengan penuh ikhlas dan tidak dibayar tentunya.
Telah banyak
aksi yang aktivis lakukan namun belum juga dapat membuka mata hati para
penduduk kursi empuk di gedung pencakar langit itu. Mungkin hanya beberapa yang
melirik tapi tetap belum mencetuskan sebuah perubahan. Anak pedalaman yang tak mampu berbuat banyak pastinya hanya bisa
menunggu dan pasrah. Sebenarnya tak hanya pendidikan yang dirasa tertinggal
bagi anak pedalaman, banyak pula hal lain seperti kebutuhan sandang, pangan,
dan papan. Kebanyakan dari mereka tidak memakai pakaian yang layak, sarana
prasarana yang tidak memadai, dan sudah pasti ketertinggalan teknologi dan
modernisasi.
Berbeda dengan pendidikan di ibukota dan kota-kota
besar, disana semua serba dilengkapi. Mulai dari teknologi yang canggih dalam
sistem pembelajaran, kurikulum yang berbasis kompetensi, bangunan sekolah yang
bertingkat-tingkat, dan segala hal yang dirasa sangat tidak adil bagi anak
pedalaman di pulau dan kota terpencil. Sebenarnya hal ini sangat memprihatinkan
bagi orang-orang yang peduli dan bisa saja jadi hal yang sepele bagi orang yang
tak tahu diri.
Namun, dibalik ketertinggalan pendidikan bagi anak
pedalaman dan ketidakmerataan dana pendidikan di Indonesia ini adalah buah dari
ketidakbertanggung jawaban oknum-oknum pemerintah. Ini tentu saja lebih
memprihatinkan daripada keadaan anak pedalaman. Para pemerintah yang tentunya
tak mudah mendapat jabatan itu perlu mengenyam pendidikan minimal sarjana untuk
status dan jabatannya saat ini. Justru ini berkebalikan, mereka yang pintar
namun bodoh. Lihat saja kini politik menjadi alasannya, sebuah kekuasaan telah
mengubah orang-orang pintar itu menjadi bodoh dan serakah.
20% dana pendidikan yang seharusnya dipergunakan
semaksimal mungkin untuk pendidikan di Indonesia malah dipergunakan semaksimal
mungkin oleh tangan-tangan yang tidak bertanggung jawab. Akibatnya pendidikan
yang tidak merata, ketertinggalan anak pedalaman dan lain sebagainya adalah
dampak dari politik yang merenggut jiwa
waras para oknum itu. Kekuasaan membawa mereka menjadi tertutup hatinya dari
tanggung jawabnya dan membawa mereka menjadi manusia serakah dan tidak
bersyukur.
Yang dirugikan bukanlah mereka, tapi rakyat
Indonesia. Inilah salah satunya mengapa Indonesia sangat sulit untuk maju.
Orang pintar saja tidak memaksimalkan otaknya, apalagi orang yang bodoh?
Bagaimana Indonesia akan maju? Jawabannya ada di tangan kita masing-masing
tentunya. Jadilah penerus bangsa yang mampu membawa perubahan yang progresif. Janganlah
menjadikan politik sebagai tujuan mengusai hal yang bukan hak kita untuk
dikuasai. Cobalah ubah cara pandang kita yang berpikir dampak apa yang terjadi
kedepannya. Politik bukanlah cara kita merauk segala kekuasaan karena pada
hakikatnya yang paling berkuasa adalah Tuhan Yang Maha Esa.